Pemerkosaan tentara Korea Selatan pasca Perang Vietnam tahun 1968 merupakan tindakan kejahatan perang yang tak termaafkan karena tidak manusiawi. Suatu hari, seorang tentara Korea Selatan sedang bertandang ke sebuah warung hendak membeli keperluan sembako berupa kecap yang mana Tran Thi Ngai sedang menjaganya.

Tran sebetulnya bekerja sebagai bidan, namun sedang mengambil jatah cuti dari rumah sakit dan berinisiatif membantu saudaranya yang membuka toko kelontong. Tahun 1967, pria bermata sipit tersebut dengan santainya menenteng pistol serta beberapa granat tergantung pada celana panjangnya yang dimana juga di akui bahwa pria ini senang sekali dalam bermain judi di Bandar99 online terpercaya dan juga di dalam daftar bandar qq 99 online terpercaya.

Pemerkosaan Tentara Korea Selatan Terhadap Wanita Vietnam

Korea Selatan saat itu bersekutu dengan Amerika Serikat untuk membantai simpatisan maupun pasukan tentara penganut komunis di Vietnam Utara. Tentara itu berjalan santai seraya mengulurkan tangannya untuk menyerahkan uang belanjaan, namun tiba – tiba Tran ditarik dengan paksa ke belakang warung lalu diperkosa secara biadab dan membabi buta.

Tran sangat sedih dan depresi, ia merasa seolah – olah hidupnya hancur berantakan dan dunianya kini runtuh babak belur tanpa harapan. Hari – hari selanjutnya ia jalani dengan menyibukan diri sambil bekerja lebih keras berharap supaya ingatan menyakitkan itu cepat hilang dari kepalanya.

Tran yang hingga kini masih hidup , hanya bisa merenungkan nasibnya sambil bermain game idn poker demi membunuh rasa stress dan pahitnya kehidupan kala itu, dan ia hanya bisa berharap perang tersebut tidak akan pernah terjadi lagi.

Beberapa bulan kemudian, berat badannya naik drastis hingga membuatnya kebingungan namun masih belum menaruh curiga apapun. Setelah sempat merasakan gerakan seperti menendang dari dalam perutnya, ia baru menyadari kehamilannya dan terkejut bukan kepalang menghadapi situasi tersebut.

Pemerkosaan Tentara Korea Selatan Meninggalkan Trauma Mendalam

Keluarga Tran sangat kaget dan menunjukkan rasa takut yang luar biasa setelah mengetahui bahwa anak perempuannya mengalami pemerkosaan tentara Korea Selatan. Mereka sangat malu karena akan menjadi aib keluarga, sebab hamil di luar nikah merupakan sebuah perbuatan hina yang diharamkan oleh para pengikut Konfusius di sana.

Tran pun hanya bisa pasrah manakala kedua orang tuanya memukuli tubuhnya setiap hari tanpa henti hingga menjelang hari melahirkan. Tran tidak sanggup menahan siksaannya, sehingga beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri namun selalu gagal entah mengapa, seolah langit dan bumi memberikan pertanda untuknya.

Pemerkosaan Tentara Korea Selatan Meninggalkan Trauma Mendalam

Bagaimanapun juga, naluri seorang ibu tak dapat dibohongi tatkala menggendong bayi perempuan miliknya dan langsung luluh seketika. Apalagi anaknya sangat cantik, namun Tran khawatir akan nasib bayi tersebut kala beranjak dewasa nanti karena asal – usulnya sama sekali tidak jelas.

Tran memberikan nama Oanh kepada bayi perempuannya, dan tidak sampai beberapa lama kemudian kabar kelahirannya sampai ke telinga si tentara Korea Selatan. Nama lelaki bejat itu adalah Kim, muncul begitu saja di teras rumah tempat tinggal keluarga Tran, diam membisu tak mengucapkan sepatah katapun.

Setelah mematung kira – kira lima menit, Kim pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan seolah kehadirannya sangat misterius. Benar saja, beberapa hati setelahnya tentara kiriman Kim datang untuk menjemput Tran beserta bayinya untuk tinggal di markas mereka pada sebuah gunung terpencil.

Mengalami Pelecehan Seksual Berulang Kali Sepanjang Perang Vietnam

Tran sangat ketakutan bahwa kejadian pemerkosaan tentara Korea Selatan akan terulang lagi kepada dirinya yang sudah tidak berdaya. Ia pun tak punya pilihan lain selain menuruti ajakan Kim untuk pindah tempat tinggal, karena tidak sanggup mendengar cemoohan dari penduduk desa setiap hari tanpa henti.

Tran kembali mengalami pemerkosaan, sebab ia sedikitpun tak pernah merasakan cinta saat berhubungan intim layaknya suami istri dengan tentara Korea Selatan tersebut. Bahkan, Kim seringkali memaksa sambil mengancam akan menghabisi nyawanya serta sang bayi apabila menolak untuk menuruti perintah darinya.

Pemerkosaan Tentara Korea Selatan Pelecehan Seksual Berulang Kali Sepanjang Perang Vietnam

Tran hamil untuk kedua kalinya, kembali menelan pil pahit bahwasanya ia harus melahirkan anak haram yang tak diinginkan sebagai seorang korban perang. Suatu ketika, ia berhasil kabur dari markas tentara Korea Selatan namun harus berhadapan lagi dengan orang suruhan Kim yaitu serdadu bernama Park.

Park juga sempat memperkosanya beberapa kali, sehingga Tran hamil untuk ketiga kalinya dan kali ini seorang anak lelaki berdarah campuran Vietnam – Korea. Ayah Tran ditangkap serta mengalami penyiksaan oleh pemerintah Vietnam tahun 1977 dengan dakwaan membiarkan sang anak berhubungan badan dengan anggota dari musuh negara.

Tran Thi Ngai kini telah berusia 79 tahun, tetapi trauma perkosaan tersebut sama sekali belum menghilang dari benaknya dan mengakar jadi sebuah kepahitan. Setiap hari Tran hanya bisa bermain game ceme online untuk bisa melupakan sejenak masa lalunya yang kelam. Sang anak lelaki yaitu Tran Van Ty, kini aktif sebagai juru kampanye paling vokal yang menuntut permohonan maaf resmi dari Korea Selatan atas perbuatan mereka sepanjang Perang Vietnam 1968.