AS menganggap China adalah ancaman semenjak Perang Dunia II berakhir, apalagi jika itu berbicara tentang kebebasan berdemokrasi terkait hak asasi manusia. Berdasarkan berita dari BBC, seorang warga negara Amerika bernama John Ratcliffe menyatakan bahwa China terus mengerahkan kekuatannya melalui cara licik.

Ia menggulirkan judi slot liar bahwa China berulang kali mencoba mencuri data rahasia milik Amerika Serikat, kemudian menyabotase seluruhnya. Dengan demikian, berulang kali negeri tirai bambu ini berhasil menendang AS dari berbagai macam industri global di pasar dunia yang pastinya memiliki nominal menggiurkan.

AS Menganggap China Adalah Ancaman Paling Besar Terkait Kebebasan

Ratcliffe melanjutkan ucapannya kepada Wall Street Journal, bahwasanya tindakan Trump untuk bertindak tegas serta tanpa ampun ke China sudah tepat. Donald Trump memang beberapa kali menaikkan pajak barang impor yang berasal dari negara tersebut, serta menuding ibukota Beijing sebagai biang kerok tindak pencurian atas hak kekayaan intelektual.

Melihat berita panas seperti itu sama sekali tidak membuat China panik dan masih saja bersikap cuek, bahkan hingga detik ini belum juga melontarkan tanggapan. Amerika Serikat sama sekali tidak berniat memberikan napas kepada musuh bebuyutannya tersebut, dan terus menekan Huawei agar tidak dapat berkembang di negara barat tersebut.

AS Menganggap China Adalah Ancaman Sebab Berniat Melengserkan Sang Adidaya

Ratcliffe tidak berhenti melontarkan kalimat provokatif yang selalu berhubungan dengan tudingan bahwa AS menganggap China adalah ancaman terbesarnya. Ia mengaku telah mengetahui bahwa Beijing saat ini tengah sibuk menyiapkan slot terbaru sebuah konfrontasi melawan AS serta bermaksud melengserkannya agar bisa menguasai seluruh dunia.

Beberapa aspek yang menjadi penekanan bertumpu pada tiga hal utama, yaitu militer, ekonomi, serta ilmu teknologi, dan kesemuanya itu adalah fundamental dasar kuatnya suatu negara. Terjawab sudah, ternyata itulah alasan mengapa China belakangan ini gencar sekali melakukan ekspansi pada tiga elemen tumpuan negara seperti disebutkan barusan.

AS Menganggap China Adalah Ancaman Sebab Berniat Melengserkan Sang Adidaya

Tuduhan memojokkan seperti itu bukannya tidak mendapatkan perlawanan sama sekali dan hanya diam tanpa ada serangan balasan sedikitpun. Seperti kita semua ketahui, China baru saja menambah pressure pada beberapa negara sekutu AS, misalnya seperti Australia yang harus menerima getahnya dan menjadi terganggu roda perekonomiannya.

China telah meresmikan kebijakan terbaru mengenai efektifnya tarif impor anggur asal negeri kangguru ini serta memberikan tekanan atas partisipasi mereka kepada Afghanistan. Nampaknya kita semua mesti waspada akan terjadinya Perang Dunia III, padahal publik sempat ramai mengenai berita tentang kakek penerima ribuan surat dari seluruh dunia yang merupakan seorang veteran PD II puluhan tahun silam.

Saling Adu Spionase Antar Dua Kubu Raksasa Barat dan Timur

Karena AS menganggap China adalah ancaman, maka tidaklah mengherankan apabila mereka telah mengadakan praktek spionase sepanjang abad 21 ini. Kaum kulit kuning yang senang berjudi di Idn Poker inipun tidak ingin pasrah begitu saja, menyelenggarakan perlawanan balik dengan memulai kegiatan spionase serupa bahkan lebih ganas daripada kompetitornya.

Ia telah berhasil menjarah blueprint atas mesin turbin berkekuatan angin dari pesaingnya yang berasal dari Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Kemudian, China meniru produknya, seraya mengganti merk dan membanting harga sehingga lawannya kelimpungan menghadapi kehancuran pada harga sahamnya, bahkan sampai mesti melakukan pemecatan massal karena sedang menuju kebangkrutan.

Saling Adu Spionase Antar Dua Kubu AS Menganggap China Adalah Ancaman

Ratcliffe berkata bahwa ia punya sumber valid bahwa kekayaan intelektual AS sudah terlalu banyak dicuri, dan nilai kerugiannya setara dengan US$ 500 miliar setiap tahunnya. FBI juga sering kali menangkap basah warga negara China atas dugaan pencurian hasil penelitian yang nantinya akan mereka pakai untuk membesarkan negara asalnya melalui jalan ilegal dan dilakukan secara tersembunyi.

Sebagai petugas mata – mata elit, CIA melaporkan bahwa China juga sedang melaksanakan eksperimen terlarang dengan menggunakan manusia sebagai subjeknya. Mereka berniat menciptakan pasukan tentara yang telah diperkuat menggunakan metode tertentu agar nantinya mengalami peningkatan performa secara drastis.